SELAMAT DATANG DI TELINGALEBAR.BLOGSPOT.COM-*PENGAWAL HUKUM DAN PENGAWAS KINERJA APARATUR NEGARA SERTA NKRI HARGA MATI-*

Jumat, 08 Juni 2012

Kompetitir Lelang Proyek Disulap Jadi Saksi


EXTREMMEPOINT.COM : - Persidangan “Korupsi” Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan di Kabupaten Jember senilai Rp 27 miliar berlangsung sengit di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) PN Surabaya, Kamis (31/05). Karena Saksi Ahli yang dihadirkan oleh JPU dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember dinilai tidak berkompeten dalam bidangnya.
Saksi Ahli, HM.  Irwan Suryanto, yang dalam agenda persidangan diberikan wewenang oleh Majelis Hakim memberikan keterangan terkait alat olah raga yang dipesan oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Jember 2010. Sayangnya, saksi yang telah di sumpah ini disanksikan kesaksiannya lantaran ia bukan saksi yang bersertifikat melainkan lawan tender yang kalah dalam proyek pengadaan alat olahraga Dispendik Jember. “Saya sebagai suplier alat olahraga,” ungkapnya kepada majelis Hakim yang diketuai oleh Junimart Gisang.
Selain itu, Kuasa Hukum para terdakwa, M. Nuril, memaparkan beberapa kejanggalan dari kesaksian yang dilontarkan oleh saksi ahli tersebut. Irwan yang merupakan pemilik toko alat olahraga bernama SSS, hanya dapat memberikan keterangan sewaktu membaca apa yang ada dalam berkas. “Jika dia memang saksi ahli, seharusnya tanpa melihat berkas sudah bisa memberikan keterangan,” jelasnya.
Hal ini mengidentifikasikan bahwa ada pemaksaan dalam pengajuan saksi ahli yang diajukan oleh JPU. Sayangnya, ketika JPU yang diwakilkan oleh Welly, lebih banyak diam tanpa memberikan kepastian kepada awak media terkait saksi yang diajukan. “Sepertinya semua sudah ada dalam persidangan,” jawabnya singkat ketika dikonfirmasi extremmepoint.com ketika usai sidang.
Dalam kasus yang menyeret sembilan terdakwa ini, di split menjadi dua berkas, terjerat dalam pengadaan alat olahraga dan pengadaan buku. Mereka adalah Bagus Wantoro selaku pejabat pembuat komitmen, Sumardi yang menjadi ketua lelang, M. dan Nurrohmadhan (pihak penerima barang). Kemudian Sugeng, Malaisondi dan Sujarwono selaku pemeriksa barang, Arief Ardiansyah yang merupakan rekanan pengadaan buku SMP, Abdul Fatah, rekanan pengadaan buku SD, dan Usman Hadi, rekanan pengadaan alat olahraga. Kasus itu, juga melibatkan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember, Achmad Sudiyono.
Kasus ini berawal dari penerimaan DAK dari APBN yang diserahkan kepada Dispendik  Jember 2010 lalu. Dispendik menerima alokasi dana sebesar Rp 27 miliar untuk pengadaan buku Rp 20 miliar dan pengadaan alat peraga pendidikan Rp 7 miliar yang diperuntukan bagi 200 sekolah tingkat SD dan SMP di Jember. Dalam pelaksanaannya, distribusi buku dan alat peraga tersebut terlambat dan diduga ada barang yang dinilai tak sesuai spesifikasi.
Namun perlu diketaui Saksi Ahli (Irwan Suryanto) menyelesaikan pendidikan SMP ditahun 1968, sedangkan SMU baru diselesaikan pada tahun 2008. Sehingga ini bisa disimpulkan bahwa pantaskah seorang saksi Ahli seperti Irwan Suryanto, yang hanya menyandang pendidikan SMU bisa dijadikan  Saksi Ahli dimuka Sidang? Ataukah ini cuman kong kali kong, antara Saksi Ahli dan JPU, supaya keterangannya (Irwan) bisa menjadi senjata dalam menjerat kesembilan Terdakwa? karena tak selayaknya seorang kompetitor Tender tiba-tiba bisa disulap menjadi Saksi Ahli dalam persidangan oleh JPU. Hal ini sangat aneh bin ajaib.  (ROBBY)

Hamba Tuhan Pembela Pencari Keadilan


EXTREMMEPOINT.COM : - Sidang perkara pidana Terdakwa Sonny Thomas Letemia asal warga Manukan Lor Surabaya kembali memasuki tahap pembelaan.
Sonny Letemia yang didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Aryanto Novindra SH melakukan tindak pidana biasa yang didakwa melanggar Pasal 111 ayat (1) Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ternyata Sonny hanyalah korban dalam kasus tersebut.
Karena pada saat penangkapan Atas dirinya (Sonny), yang katanya menurut Saksi Kholik dan Tinton, bahwa Sonny ditangkap dikamar lantai dua dijalan Bibis Tama Gang 1/35 Surabaya Bersama barang buktinya yang terbungkus dalam Koran satu bungkus daun ganja, ternyata itu semua rekayasa alias bohong. Yang Sebenarnya Sonny ditangkap dirumahnya dijalan Manukan Lor Gang 5-D /9 Surabaya.
Dalam penangkapan saat itu, Sonny tidak terbukti  menyimpan atau membawa ganja, seperti yang dituduhkan Polisi atas laki-laki berusia 32 tahun ini, sehingga dalam penangkapan tersebut ada kong kali kong antara Polisi dan salah seorang temannya yang bernama Nayamudin atas dirinya (Sonny).
Namun perlu sekedar  diketahui, bahwa Nayamudin adalah Orang yang sudah Tidak waras pikirannya sejak tahun 2001 dan itu dinyatakan hilang kesadarannya secara normal Berdasarkan medis. Sehingga pengakuan alias keterangan Nayamudin yang diambil penyidik untuk dijadidikan BAP tidak dapat dibenarkan dalam Undang-undang. Karena Nayamudin menderita penyakit Sisofreria Sicotic menurut  Medis.
Sonny ditangkap pada Rabu 16/11/2011 sekitar 21.30 Wib ditempat kediamannya dijalan Manukan lor Surabaya. Dalam penangkapan tersebut  polisi tidak bisa membuktikan bahwa benar Sonny penyimpan atau mengkomsumsi daun ganja. Sehingga Polisi menggunakan tindakan brutal terhadapnya (Sonny), dengan cara melakukan kekerasan fisik yang memukul bagian Perut, dan Badan, untuk mau mengakui perbuatannya.
Atas tindakan brutal dan dibawa tekanan polisi ini, akhirnya dengan terpaksa Sonny mau mengakuinya. Sangat disayangkan bila hal ini terus-menerus terjadi Di Institusi  penegak hukum kita, yang melakukan penangkapan secara rekasaya atas orang yang tak berdosa dijadikan Tersangka, maka hal ini akan Cacat hukum dan akan terus berkepanjangan  dalam proses penegakan hukum dinegeri ini. Sehingga pencari keadilan tidak mendapat keadilan itu sendiri.
Sedangkan dalam Pledoi alias pembelaan Terdakwa Sonny melalui  Kuasa Hukumnya E.V Purnawan LW.SH.M.STH.MA. Bahwa Kliennya (Sonny) hanyalah korban dari pada petugas yang sedang gencar-gencarnya memberantas masyarakat yang terlibat masalah Narkoba yang secara jelas-jelas Polisi mencari mangsa untuk ditangkap, karena tidak mendapat mangsanya, maka Klienpun dijebak dan dijadikan kambing hitam dalam Target penangkapan ini dan sudah jelasnya dalam persidangan Kliennya (Sonny) dengan percaya diri kepada Majelis hakim beserta Anggotanya, untuk mendengarkan suara hati kliennya yang sangat menderita.
Baik tekanan batin, fisik, pikiran, dan kekuatan untuk meminta dakwaan JPU tidak diterima. Dalam Pledoi Purnawan juga, berkesimpulan bahwa dakwaan dan Tuntutan yang disangkakan JPU terhadap kliennya, dipaksakan karena Kliennya dari Ekonomi lemah yang terbeban Berat dengan masalah Ekonomi, dia berjuang sendiri untuk mencari biaya hidup, maka Aneh Bin Ajaib bila kliennya (Sonny) patungan Uang Rp 50 ribu bersama temannya membeli ganja. Sedangkan Sonny sendiri orang yang hidup pas-pasan dan juga  taat beribadah, apalagi sering melakukan kegiatan-kegiatan Rohani. 
“Sonny adalah salah satu Asosiasi Pendeta Indonesia. Jadi selaku Kuasa hukum sekaligus Hamba Tuhan bagi Sonny, saya akan membela kebenaran untuk mencari keadilan bagi Kaum yang tertindas dan meminta kepada Majelis Hakim untuk memutuskan kasus Kliennya dengan seadil-adilnya, dan bijaksana, nantinya bisa membawa hasil yang memuaskan alias  bebas demi Hukum,” tegas Hamba Tuhan yang berhati mulia ini seusai sidang kepada extremmepoint.com, Selasa (05/06) PN Surabaya. (Robby)

Kamis, 07 Juni 2012

Desa Picuan Kabupaten Minsel Sulut Berangsur Pulih

EXTREMMEPOINT.COM : - Desa Picuan Kabupaten Minahasa Selatan yang dikabarkan telah memakan lima korban warga yang terkena tembakan brutal dari aparat kepolisian.
Menurut data yang dihimpun oleh extremmepoint.com Kerusuhan di Desa Picuan memberikan persepsi yang kurang menyenangkan kepada penegak hukum khususnya Kepolisian, masyarakat sudah tidak simpatik lagi karena kurang bijaksananya aparat setempat.
Lembaga Bantuan Hukum “Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia” (LBH-YLBHI) Manado bakal menggelar jumpa pers untuk mengungkap dalang kerusuhan di picuan.
Menurut Maharani Caroline, Direktur LBH-YLBHI Manado mengatakan, “Kami akan bongkar pada besok (Kamis) hari, siapa dalang perwira polisi di balik bentrokan ini,” katanya pada extremmepoint.com.
Jalan keluar hendaknya banyak menguntungkan masyarakat, karena masyarakat butuh perhatian yang amat sangat dan perubahan secepatnya agar kegiatan sehari-hari dapat kembali normal. (OKT

Prabowo Subianto Calon Kuat Presiden 2014

EXTREMMEPOINT.COM : - Lembaga Survei Soegeng Sarjadi Syndicate mengunggulkan angka 25,8 persen untuk Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden pada 2014.
Semua wilayah survey menunjukkan bahwa Prabowo selalu masuk dalam tiga besar Capres yang diunggulkan. Enam wilayah seperti survei, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku-Papua.
Hasil survei terhadap 2.192 responden yang tersebar di 33 provinsi, nama-nama politikus senior lainnya seperti Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla masih mendapat simpati publik. Survei dilakukan pada 14-24 Mei 2012 lalu.
Menurut Soegeng Sarjadi, Ketua lembaga survei ini, mengatakan, “Masyarakat menginginkan pemimpin yang baik untuk membawa negara lebih baik,” katanya dalam rilis survei pemetaan calon Presiden 2014 di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (06/06).
Sedangkan Mega pada posisi kedua dengan suara 22,4 persen dan Kalla 14,9 persen. Kemudian Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dengan suara 10,6 persen.
Wilayah pemilihan barat mengunggulkan Megawati, yaitu Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan di wilayah timur, yakni Sulawesi, Maluku, dan Papua, Jusuf Kalla jauh meninggalkan calon lain. Di Sulawesi, misalnya, Jusuf Kalla bisa meraup suara 45,1 persen meninggalkan Prabowo yang hanya meraih 25,9 persen suara.
Capres lain seperti Surya Paloh dengan 5,2 persen suara, Wiranto dengan suara 4,5 persen, Sultan Hamengku Buwono X dengan suara 3,7 persen, Hatta Rajasa. 2,1 persen, Sri Mulyani, 2,1 persen, Hidayat Nur Wahid 1,8 persen, Ani Yudhoyono, 1,8 persen, Akbar Tandjung, 1,8 persen, Djoko Suyanto, 1 persen, dan Pramono Edhie Wibowo, 0,9 persen. 
Masyarakat saat ini lebih jeli dibanding 2009, dalam memberikan suaranya mereka akan memilih dan memilah siapakah yang pantas menjadi Presiden 2014, dari data yang dihimpun oleh extremmepoint.com bahwa sebenarnya masyarakat sudah jenuh dengan politik dikarenakan siapapun yang jadi Presiden sama saja. Yang menjadi tolak ukur utama mereka adalah kesejahteraan. (TIMSUS)